Categories

Meta

Archives


« “Jihad” Keywords | Main | Saifulislam.com; Memang Ustadz Bisa Ngeblog! »

Krisis Epistemologis; Nyata di Dunia Maya?

By zamrudkh | January 26, 2008

Di dunia maya, bisa dengan mudah ditemukan tulisan-tulisan yang menggambarkan, maaf, kacaunya struktur epistemologis seorang Muslim. Yang haq dan bathil dengan rileks dicampuradukkan. Otoritas keilmuan seolah tak lagi dianggap sangat berarti. Mereka merasa berpikir dan menemukan kebenaran, juga terkesima pada pluralisme beragama yang terkesan ramah dan amat toleran.

Sambil memasang wajah intelektual, berpayung kebebasan berpikir dan euforia aneh seputar kekaguman terhadap akal, mereka menulis berbagai tema tentang hal-hal terkait Islam yang dapat mengelirukan pembacanya.

Kebenaran mutlak ditiadakan, malah relativitas kebenaran justru dimutlak-mutlakkan. Mengapresiasi akal secara berlebih sambil menyejajarkan diri dengan pengalaman keberagamaan Barat, dan malah membuang hormat pada kerja-kerja ulama terdahulu. Mereka-reka tuduhan romantisme sejarah, tanpa pernah bersungguh hati mengenali secara utuh khazanah keislaman itu sendiri. Batas akal dieksplorasi dengan liar, sembari alergi sewaktu dipertemukan dengan rambu dari Sang Pencipta Akal. Sejauh mana itu sesuai dengan epistemologi Islam?

Apa itu epistemologi Islam?

Berikut kutipan dari Dr. Ugi Suharto

Epistemologi Islam secara sederhananya adalah paham ilmu menurut Islam, atau dengan kata lain, apa itu ilmu menurut Islam, apa sumber-sumbernya, apa tingkatan-tingkatannya dll. Islam misalnya menganut paham bahwa manusia itu bisa tahu. Perkataan bisa itu perlu digarisbawahi, karena ada epistemologi lain yang mengatakan bahwa manusia itu tidak bisa tahu. Itulah epistemologi orang-orang Sophists yang pernah hidup sebelum kelahiran para ahli filsafat klasik seperti Socrates, Plato, dan Aristotle yang menolaknya. Dalam hal ini epistemologi Islam setuju dengan ahli-ahli filsafat klasik tersebut.

Namun epistemologi Islam jauh lebih tinggi dari epistemologi para ahli filsafat itu, karena mereka berhenti pada sumber panca indera dan akal manusia saja untuk tahu, sementara epistemologi Islam menyempurakan pengetahuan yang dicapai oleh indra dan akal manusia dengan satu lagi sumber ilmu yaitu wahyu atau istilah teknisnya masuk dalam kategori khabar shadiq (berita yang benar).

Khabar shadiq terbagi kepada dua: khabar mutawatir dan khabar al-rasul al-mu’ayyad bi al-mu’jizah. Khabar mutawatir artinya berita yang disampaikan oleh orang banyak dari satu generasi ke generasi lain yang akal kita menafikan bahwa mereka bersekongkol untuk berbohong mengenai berita itu.

Sementara khabar shadiq yang lain adalah berita dari Rasul yang didukung mu’jizat. Khabar jenis ini adalah berita-berita mengenai wahyu yang diterima oleh Rasulullah SAW yang terkumpul dalam al-Qur’an dan juga al-hadits. Jadi selain menerima indera dan akal sebagai sumber ilmu, kita juga menerima berita yang benar dari Rasul sebagai sumber ilmu. Kadang-kadang indra dan akal kita tidak bisa membuat keputusan yang pasti tentang suatu pengetahuan, maka peranan wahyu adalah untuk memastikannya. Karena tujuan ilmu itu adalah untuk mencapai kepastian dan keyakinan, maka panca indra dan akal saja tidak sempurna untuk mencapai tujuan ilmu tadi. Inilah di antara faham ilmu dan epistemologi Islam.

Berikut kutipan dari Nirwan Syafrin ihwal epistemologi:

Salah satu persoalan yang mendasar dalam epistemologi adalah bagaimana kita mengetahui? Atau dengan cara apa kita tahu? Persoalan ini cukup mendasar sekali karena ia menyangkut masalah validitas itu sendiri. Ulama salaf,(-pen) Syaf’i menjawab persoalan ini dengan bentuk hirarki. Katanya, “Tak seorang pun yang boleh mengatakan sesuatu itu halal atau haram kecuali dengan ilmu. Dan ilmu itu diperoleh melalui khabar yang ada di al-Qur’an atau sunnah, Ijma’ atau Qiyas). Prinsip epistemologis ini sejalan dengan firman Allah masing-masing dalam surah al-Nahl:116 dan al-Isra’:36.

Format hirarkis yang dibuat Syafi’i ini telah memberikan pengaruh yang cukup besar dalam sejarah pemikiran Islam. Terbukti sejak saat itu, format hirarkis ini tidak pernah mengalami gugatan dan kritik. Format hirarkis ini mempunyai implikasi epistemologis yang sangat besar. Salah satu implikasinya adalah segala jenis ilmu, dari manapun ia diderivasi, mestilah sesuai dengan standar al-Qur’an, dan tidak boleh bertentangan. Andaikan ada ilmu – apakah diderivasi dari sunnah, pengalaman (experience), atau akal – yang kontradiktif dengan al-Qur’an, maka di sana ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, ilmu tersebut salah, dan kemungkinan kedua, pemahaman dan penafsiran kita tentang al-Qur’an itu yang salah. Al-Qur’an sendiri tidak mungkin salah, karena bersumber dari Yang Maha Benar.

Terkadang konflik antara sumber ‘ilmu tidak dapat dielakkan. Bagaimana jika konflik itu terjadi antara wahyu dan akal. Para ulama tetap mendahulukan rekonsiliasi. Akan tetapi bila pertentangan tersebut pada ranah syari’ah, jelas akal harus tunduk pada ketetapan syara’, bukan sebaliknya seperti yang terjadi belakangan ini. Syatibi menjelaskan “jika terjadi konflik antara naql (wahy) dan akal dalam persoalan-persoalan Syara’, maka naql harus diposisikan di depan, dengan demikian ia menjadi ikutan (fayakuuna matbuu’an), sementara akal berada di posisi belakang menjadi pengikut.”

Konstruk epistemologi Islam itu merupakan produk dari peradaban Islam itu sendiri.

Membaca sekilas pemaparan kedua pemikir Muslim di atas, maka di manapun di dunia maya ini ketika kita menemukan artikel yang “membuat silau”, nyeleneh, menggoda, meragukan atau bahkan mengguncangkan hati dan pikiran, cocokkan saja polanya dengan epistemologi Islam. Sesuaikah atau tidak? Semakin mudah, banyak, dan sering kita menemukan tulisan yang jelas-jelas membutakan diri dan malah tidak patuh terhadap epistemologi Islam, maka krisis epistemologis itu bisa jadi benar adanya lagi berbahaya.

Bagaimana mungkin meraih kembali kejayaan peradaban Islam kalau kerangka keilmuan atau epistemologinya salah dan malah dijajah oleh unsur-unsur sofis modern dalam berbagai bentuk dan cara. Jika kerangka epistemologi ini berubah, maka umat Islam tidak akan dapat berupaya memahami ajaran-ajaran al-Qur’an dan Nabi Muhammad saw serta mendapat manfaat dari kewibawaan tradisi Islam dan juga tradisi umat manusia lainnya*.

Setiap Jum’at, khatib mengingatkan nasihat taqwa. Sukacita Ramadhan mengingatkan lagi secara lebih intensif arti penting taqwa. Menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Bagaimana mungkin bisa menjadi taqwa jika apa yang disebut perintah dan larangan diserahkan pada masing-masing individu, apalagi dengan penuh hawa nafsu. Bagaimana mungkin bisa taqwa jika tak ada acuan standar kebenaran yang dijadikan pegangan.

Maka sudah selayaknya kita terus mengistiqomahkan diri untuk meneguhi kebenaran. Kita tentu tidak ingin menjadi pertanda akhir zaman: pagi beriman, sore kafir; sore beriman, pagi kafir!

Wallaahua’lam bishshawab.
Zamrud Kh.
Selengkapnya dapat dibaca di Majalah ISLAMIA Thn. II No. 5/April-Juni 2005.:

Topics: Medan Dakwah |

2 Responses to “Krisis Epistemologis; Nyata di Dunia Maya?”

  1. dj1z4 Says:
    February 2nd, 2008 at 7:03 pm

    Beberapa hadis yang bisa jadi panutan:
    - Berdakwalah kepada jalan Allah dengan hikmah dan seruan yang baik, dan berdialoglah dengan mereka apabila dirasa ada kebaikan dalamnya..
    - Redaksinya kurang tahu tapi nafasnya kurang lebih sbb: Seseorang akan selamat dari sebuah kaum apabila dia mengetahui bahasa kaum tersebut..
    Wallahu ‘Alam..

    Bahasa di zaman sekarang sudah jauh lebih beragam ketimbang bahasa di zaman dahulu.

    Bahasa yang popular dan memiliki kekuatan pengaruh yang luar biasa di zaman sekarang salah satunya adalah bahasa matematika, derivasinya adalah bahasa fisika. dsb.

    Jikalau kita mau selamat di era-era sekarang kita harus bisa menggunakan bahasa itu untuk membuktikan kebesaran dan kebenaran tauhid kepada Allah SWT.

    Abi Murfid

  2. fazrul Says:
    February 21st, 2008 at 1:05 pm

    Dalam falsafah ilmu, tiga perkara memainkan peranan: epistemologi, ontologi dan aksiologi. Sumber ilmu penting tetapi ia perlu menggarap bahasan atau topik relevan dan apakah unjurannya. Ini memerlukan kefahaman al-Quran dan as-Sunnah. Allahu a’lam

    Abu Adam

Comments

You must be logged in to post a comment.